BULELENG - Anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang membidangi kebencanaan, I Ketut Kariyasa Adnyana menilai maraknya alih fungsi lahan sebagai faktor utama yang memicu terjadinya banjir di Desa Pancasari, Kabupaten Buleleng.
Menurut Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Bali ini, persoalan banjir di Pancasari sejatinya bukan hal baru. Katanya, hal tersebut sudah beberapa kali ditangani melalui perbaikan drainase dan saluran air. Namun, banjir kerap tejadi saat hujan lebat.
“Tapi sekarang muncul lagi, tentu ini harus dikaji penyebab utamanya,” ujar Kariaysa saat hadir dalam kegiatan "Merawat Pertiwi" PDI Perjuangan Bali di Danau Buyan, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, pada Jumat (22/1).
Kariyasa menilai, salah satu penyebab paling menonjol adalah alih fungsi vegetasi di kawasan hulu. Lahan yang semestinya ditanami tanaman keras kini banyak berubah fungsi menjadi bangunan. Sehingga tidak lagi mampu menahan air dan tanah.
“Akibatnya, volume air dan lumpur dengan bebas turun ke bawah,” kata dia.
Dengan kondisi ini, ia mendorong agar dilakukan kajian yang lebih mendalam untuk memastikan penyebab banjir secara komprehensif. Dalam konteks pencegahan ke depan, Kariyasa menekankan pentingnya pengembalian fungsi lahan sesuai dengan tata ruang.
“Ini tugas kita bersama, baik pemerintah dan juga masyarakat. Harus dikembalikan sesuai tata ruang peruntukannya. Daerah hulu dan hilir itu tidak boleh alih fungsi, apalagi jadi bangunan,” tegas dia.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng mencatat sedikitnya rumah 47 kepala keluarga (KK) terdampak akibat peristiwa banjir di desa Pancasari pada Minggu (11/1).
Genangan air dan material lumpur juga sempat melumpuhkan arus lalu lintas di jalur utama Singaraja–Denpasar karena debit air tinggi hingga masuk ke jalan raya.edy
