Iklan

terkini

Merawat Ingatan di Bali Utara: Aksi Kamisan Perdana BEM REMA Undiksha Peringati September Hitam

Sabtu, 19 September 2026, September 19, 2026 WIB Last Updated 2026-09-18T17:23:02Z

 


Pada Kamis, 17 September 2026, sejarah baru pergerakan mahasiswa tercipta di Singaraja, Buleleng. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) REMA Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) secara resmi menggelar aksi perdana bertajuk "Konsolidasi Berdaya" yang sekaligus menandai lahirnya aksi Kamisan pertama di wilayah Bali Utara. Mengangkat tema “September Hitam: Melihat dan Mengenang Mereka yang Tak Boleh Dilupakan”, ruang konsolidasi ini sengaja digagas untuk membangkitkan kembali kepedulian mahasiswa dan masyarakat terhadap rentetan persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

Pemilihan tema ini karena September selalu menjadi bulan yang sarat akan duka kolektif bangsa. September Hitam adalah momentum krusial untuk mengenang kembali berbagai peristiwa pelanggaran HAM berat dan korban kekerasan masa lalu yang hingga kini belum menemui titik terang keadilan. Melalui Konsolidasi Berdaya, BEM REMA Undiksha membuka ruang dialektika bagi mahasiswa untuk mengkritisi realitas penegakan HAM hari ini, sekaligus mempertanyakan sejauh mana negara dan masyarakat dapat memastikan agar tragedi serupa tidak terus berulang.



 

Pelaksanaan aksi ini tidak sekadar diisi dengan penyampaian aspirasi, melainkan dikemas secara menyentuh melalui perpaduan ruang diskusi dan pertunjukan seni. Karya-karya seni yang ditampilkan mengangkat kisah perjuangan serta nilai-nilai kemanusiaan, menjadikannya medium emosional yang efektif dalam merawat ingatan dan menyampaikan pesan perlawanan kepada sesama mahasiswa. Melalui pendekatan kebudayaan ini, massa aksi yang hadir diajak untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga meresapi esensi perjuangan secara lebih mendalam.

 

Dalam sesi diskusi, fokus konsolidasi diarahkan pada persoalan HAM dan kebebasan sipil yang hari ini kian terancam. Kami menyoroti secara khusus kondisi masyarakat sipil di tengah pusaran konflik Papua. Forum ini menegaskan betapa pentingnya negara dalam memprioritaskan perlindungan masyarakat sipil, serta menerapkan prinsip-prinsip HAM yang ketat dalam penanganan konflik maupun keamanan. Selain itu, pergeseran bentuk represi dari ruang fisik yang kini merambah menuju pembungkaman di ruang digital juga menjadi sorotan tajam, di mana berbagai regulasi dinilai berpotensi kuat membatasi ruang kebebasan berekspresi masyarakat.


 

Berangkat dari rentetan tantangan tersebut, aksi ini menegaskan kembali hak warga negara dalam menyampaikan pendapat yang telah dijamin oleh konstitusi, serta mendesak pemerintah agar aspirasi publik benar-benar didengar dan ditindaklanjuti. Oleh karena itu, Konsolidasi Berdaya juga menjadi pengingat bahwa peran mahasiswa tidak boleh terhenti pada unjuk rasa atau penyampaian pendapat semata. Mahasiswa memikul tanggung jawab intelektual untuk terus mencatat, mengkaji secara kritis, menyampaikan, dan mengawal isu-isu tersebut hingga ke telinga para pemangku kebijakan.

Sebagai sebuah langkah awal, Konsolidasi Berdaya ini tidak akan berhenti hanya sebagai seremoni sesaat. Besar harapan kami agar nyala api pergerakan ini terus hidup, dan aksi Kamisan di Bali Utara dapat menjadi agenda rutin yang berkelanjutan ke depannya. Lewat konsistensi ruang berdiskusi dan berekspresi ini, BEM REMA Undiksha berkomitmen untuk terus merawat ingatan, menolak lupa, dan senantiasa berada di garda terdepan dalam mengawal perjuangan kemanusiaan di negeri ini.



Editor: Kevin 

Penulis: Muhammad Yoga Ramadhan, Menteri Kajian dan Aksi Strategis BEM REMA Undiksha

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Merawat Ingatan di Bali Utara: Aksi Kamisan Perdana BEM REMA Undiksha Peringati September Hitam

Terkini

Topik Populer

Iklan

Iklan