Singaraja -- Panen Komoditas Pertanian s produk bawang merah diolah menggunakan metode dominasi organiks di Desa Bungkulan besutan anggota HKTI Buleleng pada Minggu, ( 09/08/2026). Dihadiri oleh pucuk Pimpinan DPC HKTI Buleleng Doktor dr Ketut Putra Sedana SPOG.
Panen bawang dengan metode Dominan Organik ini memang menjadi primadona lain ditengah derasnya komoditi bawang merah dari Luar Bali yang masuk di pasar modern dan tradisional.
Hal ini memantik perhatian dari Ketua HKTI Buleleng yang akrab dipanggil Dokter Caput.
Ia bersama Jajaran HKTI Hadir menyaksikan keberhasilan inovasi para petani bawang dibungkulan yang mampu mengkombinasikan teknologi pertanian tradisional dan modern dalam mengolah hasil pertanian.
" Hari ini kita hadir menyaksikan panen bawang di Bali Utara dengan hasil yang sangat bagus namun dibalik hasil yang bagus ini banyak juga tantangannya," ucap Dokter Caput.
Doketahui dalam Proses menanamnya memakan waktu sekitar 65 hari dimana, sampai proses memanen dijaga betul dari serangan hama dan menjual dengan harga yang relatif fluktuatif.
" Disini sangat menarik proses mengusir hamanya yakni menggunakan metode tradisional dalam menghalau serangga seperti sinar lampu dan air serta pengolahan tanahnya juga secara full organik, yang mungkin belum atau jarang diterapkan ditempat lain," terang Dr Caput
Kehadiran HKTI Buleleng disamping mengikuti panen bawang bungkulan yang merupakan anggota HKTI Buleleng kuga mengetahui kesulitan kesulitan yang dihadapi petani dalam aktivitas mereka menghasilkan produk produk pertanian yang dibutuhkan masyarakat.
" Kehadiran HKTI tentunya semoga membawa manfaat bagi petani dalam upaya mengangkat kesejahteraan masyarakat yang bergelut sehari sehari disektor pertanian," lanjut Dr Caput.
Karena dalam dinamakan petani juga harus menggandeng semua pihak guna memecahkan masalah dan solusi pemasaran yang selama ini dihadapi petani sebagai contoh ke depan HKTI Buleleng akan mencoba terobosan dengan berkomunikasi dengan beberap SPPG di Buleleng menganai apa saja kebutuhan mereka sehingga bisa dipasok langsung.
" Contohnya Satu Desa Bungkulan saja produk bawang merah jika diserap secara konsisten mampu mampu memasok 5 SPPG apalagi produknya organik tentunya akan menyehatkan produk makanan SPPG dan memotivasi petani untuk lebih semangat memproduksi hasil pertanian sebab yang akan meyerap hasilnya sudah jelas, karena yang sulit itu pasar," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sana Petani yang juga Anggota HKTI Buleleng Ketut Astawa juga menyampaikan bahwasanya, dalam proses produksi bawang merah pihaknya menggunakan pola pola tradisonal dan pengolahannya memanfaatkan sistem organik.
" Siklus menanam produk pertanian pada bulan juli memang rentan hama sehingga kami memanfaatkan minyak air dan lampu guna mengusir hama kupu kupu dan serangga yang hinggap di tanaman bawang merah, tanah juga kita olah dengan pupuk organik yang nantinya menyehatkan tanaman," terang Astawa.
Ia juga berharap agar pihak pemerintah mampu mengendalikan pasar sehingga harganya stabil dan tidak anjlok ketika produk dari luar daerah masuk atau juga hasil petani di buleleng melimpah menyebabkan merosotnya harga komoditi pertanian.***
( Siaran Pers DPC HKTI Buleleng)
.png)


.png)