BULELENG - Anggota DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya datang langsung kesekolah untuk mengetahui penyebab seorang Siswi di SD 2 Banyuning, yang tidak mengikuti kegitan belajar selama lebih dari setahun. Kader Golkar itu juga mendatangi rumah siswa tersebut, pada Rabu (15/2).
Berdasarkan catatan yang ia dapatkan dari pihak sekolah, siswa tersebut sudah tidak sekolah sejak Oktober 2024. Ia pun menyayangkan situasi itu, sebab hal ini menjadi alarm dini terhadap potensi putus sekolah yang luput dari pantauan.
Nyoman Dukhajaya pun meminta kondisi ini segara diselesaikan dari pihak sekolah maupun dari dinas terkait. Dukajaya menyebut, kasus ini menjadi perhatian karena terjadi di perkotaan dengan masyarakat yang relatif berpendidikan.
"Saya khawatir kasus ini melebar ke sekolah lain. Makanya cek faktor penyebabnya apa. Apa faktor internal, ke pribadi anaknya, keluarga, ekonomi barangkali, kemudian faktor lingkungan sekolah. Apakah lingkungan sekolah yang tidak nyaman, kan juga mempengaruhi,"imbuh dia
Dhukajaya juga menyarankan dinas terkait untuk melakukan evaluasi data Dapodik untuk mengetahui rumusan masalah anak sekolah lain yang putus sekolah.
"Data ini penting untuk arah pendidikan kita. Maka dari itu, harus kita lihat rumusan masalah anak putus sekolah ini seperti apa. Faktor penyebab harus tau dulu,"tegas dia
Sementara itu, Kepala Sekolah SD 2 Banyuning, Desa Putu Sri Sadwiti, mengaku jika siswi yang bersangkutan sudah tidak masuk sekolah sejak Oktober 2024. Katanya, pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan siswa tersebut ke sekolah, namun belum membuahkan hasil.
"Jadi, 1 bulan dia ga masuk sekolah kami langsung tindaklanjuti, dengan melakukan kunjungan ke rumah untuk cari penyebabnya bersama wali kelas terdahulu,"ungkap dia
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan unit layanan disabilitas, yang melibatkan psikolog dari dinas terkait, namun masih belum menemukan penyebab pasti anak tersebut tidak mau ke sekolah. Katanya, layanan psikolog tidak bisa berlanjut lantaran orang tua siswa tersebut sibuk bekerja.
"Tidak hanya melibatkan si anak saja, ini juga harus melibatkan kedua orang tua. Jadi, pihak psikolog juga tidak tau apa yang jadi penyebab pasti. Apakah dari faktor faktor pola asuh, atau yang lainnya,"ungkap dia.(tim).
